Di tengah hiruk-pikuk Jakarta Pusat, terdapat sebuah Wihara yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan spiritualitas masyarakat Tionghoa sejak abad ke-18. Wihara Tri Ratna, yang terletak di Jalan Lautze Raya No. 47, Sawah Besar, adalah salah satu vihara tertua di Jakarta.
Didirikan sekitar tahun 1789, vihara ini awalnya dikenal sebagai Thie Chang Yuan atau Thie Chang Ong, yang dibaktikan kepada Dewa Raja Neraka. Keberadaannya tidak hanya sebagai tempat ibadah bagi penganut Buddha, tetapi juga menjadi ruang spiritual bagi penganut Konghucu, dengan adanya tempat khusus untuk mengirim doa bagi arwah.
Sejarah Wihara Tri Ratna tidak lepas dari peristiwa besar yang terjadi di Batavia. Dahulu, wilayah tempat wihara ini berdiri merupakan bagian dari Perkuburan Sahari, yang digunakan untuk menguburkan korban proyek pelurusan Kali Ciliwung pada tahun 1761. Sebagai bentuk penghormatan terhadap arwah yang dimakamkan, vihara ini didirikan sebagai tempat ibadah yang mengkhususkan diri pada kedewaan yang mengurus arwah.
Di dalam wihara ini, terdapat berbagai patung dewa, termasuk 18 Arhat, yang merupakan pengikut setia Sang Buddha. Selain itu, vihara ini juga memiliki prasasti yang menandakan peran besar para saudagar etnis Tionghoa dalam memperluas area pemakaman kota Batavia.
Seiring berjalannya waktu, Wihara Tri Ratna mengalami berbagai perubahan dan tantangan, termasuk sengketa kepemilikan tanah dan bangunan yang terjadi sejak abad ke-20. Namun, vihara ini tetap bertahan sebagai cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah DKI Jakarta sejak tahun 1972.
Kini, Wihara Tri Ratna tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi sejarah yang menarik bagi mereka yang ingin memahami lebih dalam tentang perjalanan komunitas Tionghoa di Jakarta. Dengan arsitektur yang masih mempertahankan nuansa tradisional, wihara ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang spiritualitas dan kebajikan yang terus hidup hingga kini.
Sumber: